Belajar ‘nama-nama’ dengan Cinta

Belajar ’nama-nama’ dengan Cinta
(Catatan 2 Juni 2008, Kos 796 Jogja)

Hal yang paling ditekankan selama aku turut serta dengan barisan kawan-kawan IMM adalah tentang kesadaran. Lebih khusus lagi soal kesadaran hidup bersosial yang kemudian digiring pada aksi perubahan sosial dengan kader sebagai aktor perubahan itu. Syarat perlunya adalah daya kritis terhadap fenomena sosial sedangkan syarat cukupnya adalah ide-ide sebagai tawaran perubahan itu sendiri. Itu dalam bangunan skema ideal pemikiranku sebagai hasil interaksiku dalam tubuh ikatan. Tapi yang aku jumpai, ada perubahan syarat cukup yang akhir-akhir ini muncul. Syarat cukup itu bukan lagi mutiara ide-ide yang menjadi tawaran perubahan akan tetapi politik, yang selama ini kupandang masih berada dalam kerangka pragmatis dan belum berhasil digiring dalam kerangka ilmu.
Semangat yang masih tertanam dalam kesadaranku adalah tentang perubahan sosial walau akhir-akhir ini aku merasakan ada ketidakcocokan dengan cara-cara yang ditempuh kawan-kawan untuk bekerja ke arah sana. Agaknya pekerjaan itu hanya seperti apa yang dikatakan Iqbal dengan ” bernyanyi seperti nyanyian ombak, hanya bernyanyi ketika terhempas di pantai…”. aku khawatir, semangat perubahan sosial yang dimiliki kawan-kawan jika tidak disertai dengan keterlibatan spiritual yang mendalam maka akan menjadi aktifitas yang mubadzir saja. Hanya akan menjadi sebutir garam saja yang mengasini lautan.
Perubahan sosial ditengah carut-marut kehidupan bukanlah pekerjaan mudah. Kalau saja kita mengidentikkan kondisi saat ini adalah seperti Makah pada masa Nabi, maka butuh waktu 20 tahun untuk merubahnya, dengan aktor perubahan sekaliber Nabi Muhammad yang langsung dibimbing oleh wahyu. Aku tak akan mengatakan bahwa kalau kita hendak berhasil dalam agenda perubahan sosial maka yang dibaca jangan teori-teori barat tapi juga Al Qur’an. Karena tentu kawan-kawan akan dengan segera membantahku, bahwa kebenaran adalah barang hilang milik seorang muslim dan dimanapun kita menemukannya maka ambillah itu sebagai kebenaran. Atau kawan-kawan akan berkata padaku, ”Substansinya sama, menjunjung nilai-nilai kemanusiaan..”.
Sudahlah, yang kurasakan adalah bahwa aku tak mengerti apa-apa. Barangkali seperti Adam yang diturunkan ke muka bumi dan tidak tahu apa-apa soal ’nama’. Keputusan Allah untuk mengajarkan ’nama-nama’ itu kepada Adam, kupikir bukanlah dengan begitu saja melainkan ada interaksi batiniah antara Adam dan Tuhan hingga Tuhan bersedia mengajarkan kepada Adam sekelumit saja tentang ’nama-nama’. Seklumit saja tentang ’nama’ pun telah menjadi ilmu yang mampu dipelajari dan kembangkan manusia sehingga sejarah peradaban manusia berjalan begini rupa, bagaimana jika seutuhnya? Yang ingin aku katakan adalah bahwa Al Qur’an itu hidup. Ia tak mau diduakan, kalau ia diduakan maka ia akan menjauh. Kalau ia didustakan maka ia akan pergi. Tapi kalau dia berusaha didekati dengan kerelaan maka ia pun akan makin dekat. Apalah jadinya jika ia didekati dengan cinta, yang sepenuhnya cinta? Ia akan mengantarkan kita pada Tuhan, pengendali alam semesta.

Tentang RumahMatahari

graduated
Pos ini dipublikasikan di Berbagi Makna.... Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s